Langsung ke konten utama

Postingan

Hasil Observasi Saya tentang Wuring

Wuring adalah sebuah kampung Bajo di kota Maumere. Tahun lalu, sepanjang 2020, saya terlibat untuk melakukan riset di kampung tersebut, bersama teman-teman komunitas KAHE. Dalam proses riset itu, kami juga berkesempatan untuk live in. Saya melakukan live in di bagian timur kampung. Namanya Leko, sebuah lokasi yang reklamasinya melengkung, menyerupai teluk kecil. Saya tinggal di sebuah rumah apung. Rumahnya tidak terlalu besar, terbagi dalam tiga ruangan: ruang depan, ruang tamu, dan dapur. Di depan dan belakang rumah ada teras, ukurannya kira-kira 3*1 meter.  Teras depan dipakai untuk menyimpan pelampung, pukat, dan pendayung. Sedangkan di teras belakang, dipakai untuk mencuci pakaian dan mandi, dan untuk buang air. Ruang tamu ada televisi, dan di rak-rak meja tivi, sang ibu menyimpan beberapa perkakas seperti piring dan cangkir. Di depan pintu masuk, terus ke dapur hanya dibatasi dengan rak piring. Jeriken air berjejer di dekat dinding. Jeriken itu adalah jeriken bekas kemasan oli...

Diriku yang Lain

Pagi ini aku bangun dan mendapati diriku yang lain sedang terbaring tepat di sisiku. Aku tak terkejut sama sekali. Ia berraga seperti aku. Ia memakai gaun hitam panjang hingga menutupi kedua lututnya. Ia tidur dengan pulas dan penuh damai, layaknya orang mati. Ekspresinya kosong. Aku tidak tahu sejak kapan dia hadir di situ.  Yang aku ingat sepanjang malam aku menangis sambil memaki diri sendiri sebagai manusia rapuh dan tidak berguna, menyesali kesalahan yang aku perbuat. Ah, aku baru ingat pintu-pintu gereja telah ditutup. Bukan hanya gereja di depan jalan masuk kampung, tapi semua kota. Mereka bilang ini gara-gara virus Corona. Sialan benar virus itu, yang sudah membikin banyak orang lebih takut terjangkit dan kemudian mati, dari pada khawatir dengan kesenangan poligami dan menelantarkan anak-anak mereka. Tetapi Gereja telah tutup. Itu berarti tidak ada sakramen pertobatan untuk menyambut paskah kali ini.  Aku semakin membenci diriku sendiri. Aku benci dengan kebodohan-kebo...

Another Day, Another Story

Saya ingin bercerita tentang diri saya. Nama yang diberikan oleh orang tua saya adalah Carlin Karmadina. Kawan-kawan lama saya mengenal baik nama itu, dan menyapa saya dengan nama itu.  Saya sangat menyukai pantai. Melihat gulungan ombak, mendengar deburannya, aroma asin yang mampir di hidung saya, juga bagaimana jejak kaki saya tertinggal di bibir pantai. Saya pemalu, suka mengalah, tidak suka bising, dan mudah cemas dengan hal-hal remeh. Bakat saya adalah menyimpan rahasia seumur hidup. Beberapa hal yg saya alami dan juga yang saya ketahui sendiri tidak saya ceritakan pada siapapun. Belakangan saya menyadari sesuatu; saya mempunyai kepribadian lain. Sayalah yang menciptakannya, tanpa sengaja. Barangkali empat atau lima tahun lalu sejak terlintas di benak untuk menamainya Kaka ID. Orang-orang baru yang saya jumpai sering menanyai kenapa saya memakai nama itu (juga untuk akun FB saya). Saya bilang bahwa itu kependekan dari nama panjang saya di KTP dan ijazah. Lalu ID? H...

Apa yang Kerap Dirasakan Oleh Anak Perempuan yang Tumbuh dalam Budaya Patriarki?

Apa yang kerap dirasakan oleh anak perempuan yang tumbuh dalam budaya patriarki?  “Sebagai perempuan, saya merasa dirugikan dalam budaya ini. Saya merasa tidak adil.” Kata saya suatu kali kepada sahabat saya, juga seorang perempuan. Siang itu kami ngobrol cukup lama. Ia tidak kaget dengan pernyataan saya. Mungkin karena kami sama-sama perempuan, sama-sama tumbuh dalam budaya patriarki yang kuat, dan acap kali merasakan sebagai yang terpinggirkan di lingkungan sosial, terlebih dalam rumah. Semasa remaja, anak perempuan diajarkan untuk mengambil peran di dapur, mencuci pakaian sekeluarga, mengurusi adik-adik, membersihkan rumah, dan lain-lain. Anak perempuan diijinkan pergi dengan teman-temannya jika semua pekerjaan di rumah selesai. Anak perempuan tidak boleh pulang terlambat. Keharusan ini tidak berlaku bagi anak laki-laki.  Tak hanya dengan perlakuan, anak perempuan dibesarkan dengan narasi-narasi macam: “anak perempuan harus lemah-lembut, sopan, pintar masak, dan...

Aksi Solidaritas untuk Deng Jia Xi

Nama Deng Jia Xi trending di media sosial twitter sejak Rabu (4/3/21). Dong Jia Xi, atau juga dikenal dengan Kyal Sin, adalah gadis berusia 19 tahun, yang juga turut dalam aksi unjuk rasa mengecam kudeta militer Myanmar dan meminta para pemimpin untuk dibebaskan. Ia terbunuh karena ditembak di kepala saat terjadi bentrokan antara aparat dengan demonstran di kota Mandalay, Myanmar. Di beberapa foto yang beredar di twitter, tampak Kyal Sin menggunakan kaos hitam bertuliskan "Everything will be OK", lengkap dengan masker dan kacamata, sedang berdiri siaga dengan para demonstran lainnya. Sebelum serangan polisi, Kyal Sin, dapat didengar dari video yang beredar di medsos, berteriak, "Kami tidak akan lari" dan "darah tidak boleh ditumpahkan". Ia dikenang sebagai perempun pemberani yang menendang saluran air sampai terbuka sehingga pengunjuk rasa dapat mencuci gas air mata dari mata mereka, dan yang melemparkan tabung gas air mata kembali ke arah polisi. S...

Jurnalisme Warga

Jurnalisme warga atau Citizen Journalism dapat diartikan sebagai prakterk jurnalisme yang dilakukan oleh orang biasa. Orang biasa yang dimaksud adalah mereka yang bukan wartawan yang bekerja di media profesional. Dengan jurnalisme warga, setiap orang bisa membuat berita dan mendistribusikan informasi secara global. Jurnalisme warga ini  mengembangkan new media  di berbagai daerah yang didukung dengan teknologi.  Jurnalisme warga turut melahirkan media-media indie yang memfasilitasi dan terbuka untuk semua orang untuk memproduksi berita dan menyebarkan informasi yang mereka miliki.  Ada 6 kategori jurnalisme warga 1. Audience Participation 2. Independent News  3. Situs Berita Partisipatoris Murni 4. Colaboratif & Contributory 5. Personal Boarcasting Site Tantangan dari jurnalisme warga adalah akurasi, kredibilitas dan ketaatan pada kode etik jurnalistik. Saking bebasnya mengeksplorasi informasi, warga yang memproduksi berita tidak menggunakan kaid...

Larantuka, Toleransi Umat Beragama yang Bukan Puisi

Di bulan September 2020 lalu, saya diajak oleh dosen saya, Ibu Rini Kartini untuk terlibat dalam peliputan toleransi umat beragama di Larantuka. Bagi saya, selama 4 hari di kota Larantuka untuk tujuan produksi itu seperti mengajak saya pulang dan melihat lebih jauh tentang kota ini.  *** Saya lahir di Larantuka, kota kecil di bagian timur Flores. Saking kecilnya, orang sangat akrab dengan kalimat macam ini; " ke atas ko? " atau " ke bawah ko? ". Kalimat itu dilontarkan oleh para konjak (istilah untuk seseorang yang membantu sopir mikrolet) saat menawarkan jasa angkutan mereka.  Kota kecil ini bisa dikelilingi hanya seharian, itu pun dengan jalan kaki. Bisa juga tidak sampai sehari, jika menggunakan sepeda motor.  Orang-orang mengenalnya dengan kota tua, kota Ratu, atau kota Renha, tempat kerajaan Katolik tertua satu-satunya di Nusantara berdiri hingga kini. Kapela Tuan Ana yang ada di kota Larantuka. (Foto: google) Saya tumbuh di kota yang sederhana ini;...