Pagi ini aku bangun dan mendapati diriku yang lain sedang terbaring tepat di sisiku. Aku tak terkejut sama sekali. Ia berraga seperti aku. Ia memakai gaun hitam panjang hingga menutupi kedua lututnya. Ia tidur dengan pulas dan penuh damai, layaknya orang mati. Ekspresinya kosong. Aku tidak tahu sejak kapan dia hadir di situ. Yang aku ingat sepanjang malam aku menangis sambil memaki diri sendiri sebagai manusia rapuh dan tidak berguna, menyesali kesalahan yang aku perbuat. Ah, aku baru ingat pintu-pintu gereja telah ditutup. Bukan hanya gereja di depan jalan masuk kampung, tapi semua kota. Mereka bilang ini gara-gara virus Corona. Sialan benar virus itu, yang sudah membikin banyak orang lebih takut terjangkit dan kemudian mati, dari pada khawatir dengan kesenangan poligami dan menelantarkan anak-anak mereka. Tetapi Gereja telah tutup. Itu berarti tidak ada sakramen pertobatan untuk menyambut paskah kali ini. Aku semakin membenci diriku sendiri. Aku benci dengan kebodohan-kebo...
Carlin Karmadina, menyukai kue, aroma buku dan pantai. Suka bertemu orang baru dan mendengar cerita-cerita mereka. Selalu ingin hidup lebih baik dari hari sebelumnya.